Jangan Putus Asa Menggapai Ampunan Allah

AMPUNAN ALLAH
Jangan sekali-kali berputus asa dari dosa, karena pintu taubat selalu terbuka dan tidak ada pemberi syafaat yang yang lebih berhasil daripada taubat. Pemberi syafaat bagi orang yang berdosa adalah pengakuan dosa itu sendiri, sedangkan taubatnya adalah memohon ampunan-Nya. Sungguh mengherankan orang yang celaka, padahal keselamatan itu ada bersamanya (Istighfar).
Istighfar menggugurkan dosa seperti gugurnya dedaunan. Istighfar adalah derajat orang yang tinggi kedudukannya, dan adalah nama yang berlaku pada enam makna yaitu, penyesalan bagi yang telah lalu bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan dosa, mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya dengan bathil, memperhatikan setiap kewajiban yang dilalaikan dimasa lalu, memperhatikan daging yang telah tumbuh dari hasil yang yang haram, rasakan pada tubuh sakitnya ketaatan sebagaimana telah merasakan manisnya kemaksiatan. (Ali bin Abi Thalib r.a)
Rasulullah Saw bersabda: Ketika Allah SWT selesai mencipta makhluk, Allah menulis dalam kitab-Nya, Dia menulis untuk Dzat-Nya sendiri dan kitab itu diletakkan disisi-Nya diatas Arasy dan isi tulisan-Nya adalah: Sesungguhnya Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku [HR. Bukhari]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah lebih gembira atas taubatnya seorang hamba daripada orang yang kehausan lalu menemukan air, dan lebih gembira dari wanita mandul yang dapat melahirkan anak, dan lebih gembira dari orang yang kehilangan barang lalu menemukannya. Barangsiapa bertaubat kepada Allah dengan taubat yang murni, maka Allah melupakan dua malaikat pencatat amalnya, semua anggota tubuhnya, dan tempat-tempat ia melakukan dosa, sehingga semuanya tidak dapat menjadi saksi bagi kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang telah dikerjakannya [HR. Abu Abbas]
Rasulullah Saw bersabda: Allah SWT Berfirman: Bila hamba-Ku senang bertemu Aku, maka Aku sangat senang bertemu hamba-Ku, dan bila hamba-Ku tidak senang bertemu dengan Aku, maka Aku-pun tidak senang bertemu dengan hamba-Ku [HR. Bukhari]
Rasulullah Saw bersabda: Apabila kalian mampu memperbanyak istighfar, maka lakukanlah, karena sesungguhnya tiada suatu amalanpun yang lebih berhasil disisi Allah SWT dan lebih disukai oleh-Nya selain istighfar (memohon ampun) [HR. Al Hakim]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah yang Maha Gagah dan Maha Mulia, sungguh mengangkat derajat (maqom) hamba yang saleh di Surga. Maka hamba yang saleh bertanya: Wahai Tuhan, darimana saya memperoleh ini?. Tuhan menjawab: Dengan istighfar anakmu untukmu [HR. Ahmad]
Rasulullah Saw bersabda: Tidaklah seorang hamba Allah, baik pria maupun wanita yang ber-istighfar tujuh puluh kali sehari melainkan Allah mengampuni tujuh ratus dosa-dosanya. Dan sesungguhnya sia-sialah hamba Allah, baik pria maupun wanita yang dalam sehari semalam berbuat dosa lebih dari tujuh ratus kali [HR. Baihaqi]
Rasulullah Saw bersabda: Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, sama dengan orang yang tidak mempunyai dosa dan orang yang meminta ampunan dari perbuatan dosa sedangkan ia masih tetap menjalankannya sama dengan orang yang mengejek Rabb-nya [HR. Baihaqi].
Ibrahim berkata: tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat [15:Al Hijr:56]
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat [11:Huud:3]
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (*)Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar [05:Al Maaidah:8~9]
Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [16:An Nahl:119]
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [004-An Nisaa’:47]
`Orang-orang yang mengenal Allah dengan baik, sepakat bahwa ketika anda sesat maka Allah menyerahkan segalanya kepada anda dan membiarkan apa yang terjadi diantara anda dan jiwa anda. Tetapi ketika anda benar maka Allah akan selalu menuntun’ (Ibnul Qayyim Al–Jauziyah). Seorang hamba itu selalu berada diantara sesat dan benar. Bahkan dalam satu jam seorang hamba bisa berada dalam keadaan kedua-duanya. Hamba yang taat dan membuat-Nya ridho, maka Allah-pun berterima kasih kepada hamba-Nya dengan dengan cara menurunkan pertolongan-Nya.
Sebaliknya, kepada hamba yang durhaka dan menentang-Nya, maka Allah marah dan mengabaikan dan membiarkannya. Ketika hamba mampu mencerna semua ini dan memberikan hak Allah sesuai porsinya, maka ia akan memahami betapa ia sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap hembusan nafasnya, setiap detik dan setiap kerdipan mata.
Hamba juga akan memahami bahwa keimanan dan tauhidnya ada ditangan Allah. Seandainya Allah membiarkannya sekejap saja maka singgasana tauhidnya akan roboh dan langit keimanannya akan runtuh menimpa bumi. Hamba juga akan memahami bahwa Dzat yang melindungi keimanannya adalah Dzat yang menjaga langit supaya tidak runtuh jatuh menimpa bumi, kecuali dengan seizin-Nya.
`Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai`(71:Nuh:10~12). `Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah akan memberikan jalan keluar untuk setiap kecemasan dan akan membukakan pintu keluar dari setiap kesempitan’(Al Hadits). Salah satu sebab ketenangan hati dan pikiran adalah beristighfar kepada Dzat yang memiliki keagungan. Banyak hal yang dianggap berbahaya justru mendatangkan manfaat. Setiap qadha pada dasarnya baik, walau terkadang dimulai dengan kemaksiatan yaitu kemaksiatan yang dibarengi dengan taubat dan penyesalan dan kesadaran. `Allah tidak memberlakukan sebuah qadha kepada hamba-Nya kecuali itu menjadi sebuah kebaikan baginya`(Al Hadits). `Tahun-tahun berlalu bersama kebahagiaan dan kesenangannya ; Karena telalu singkatnya, tahun-tahun itu seperti hitungan hari ; Kemudian datang hari-hari susah ; Seakan-akan hari-hari itu tahun-tahun yang lama karena panjangnya ; Kemudian masa-masa itu lenyap bersama dengan manusia ; Masa-masa itu dan manusia-manusia itu tak ubahnya mimpi` (Abu Tamam). (`Aidh Al-Qarni)
Siapapun yang berada ditempat tidurnya, hisablah dirimu atas apa yang dilakukan hari ini, apabila telah melakukan perbuatan baik, maka harus bersyukur dan memuji Allah atas karunia-Nya, dan apabila telah berbuat buruk, maka bersegeralah memohon ampunan kepada-Nya, dan jika lalai dalam ampunan, maka dapat di ibaratkan sebagai pedagang yang membelanjakan harta tanpa pernah menghitungnya, sehingga akan bangkrut tanpa disadarinya. (Pustaka)
Raih dan capailah pintu taubat selama pintu itu terbuka bagimu, karena dalam waktu dekat pintu itu akan tertutup. Raihlah kebaikan selama mampu melakukannya dan masuklah kedalamnya dengan membawa hati yang bertaubat, kemudian berlarilah kepintu doamu karena pintu itu ada untukmu. Janganlah putus asa dari rahmat Allah, karena sesuatu yang sedikit namun mencukupi, itu lebih baik daripada sesuatu yang banyak tetapi melalaikannya. Itulah bukti bahwa kebaikan tidak akan rusak dan dosa tidak akan dilupakan. (Pustaka)
Jangan lalai dari memohon ampunan setiap saat kepada Allah, dimana kezaliman yang tidak diampuni Allah adalah syirik, kezaliman yang tidak akan dibiarkan tanpa ditanyai adalah kezaliman yang dilakukan terhadap hamba Allah lainnya dan kezaliman yang diampuni tanpa ditanyai adalah kezaliman atas dirinya sendiri dengan dosa-dosa kecilnya. (Pustaka)
Mohonlah ampunan-Nya dan memohonlah dengan penuh kerendahan diri dihadapan-Nya. Carilah sebab musabab mengapa kita tidak sanggup melaksanakan perintah-Nya. Mungkin saja kita tidak sanggup melaksanakan perintah itu karena berprasangka buruk kepada-Nya atau kita terlalu bangga kepada diri kita sendiri atau kita terlalu yakin pada daya dan upaya diri kita sendiri, yang berarti kita telah menyekutukan-Nya dengan daya upaya diri kita. (Pustaka)
Apakah orang-orang yang masih muda menunggu hingga bungkuk dihari tua, dan orang-orang yang menikmati tubuh sehatnya menunggu hingga sakit-sakitan dan orang-orang yang masih hidup menunggu hingga saat kematian dan apabila waktu itu tiba, para kerabat hanya dapat menolong mengubah posisi tubuhnya dipembaringannya, dapatkah saat itu sanak saudara menghentikan kematian?, atau dapatkah para wanita yang berkabung membawa perbaikan?, bahkan jasad akan ditinggalkan sendiri terkurung diliang yang terbatas pada sudut sempit dan pada waktunya seluruh kulit dirobek-robek oleh serangga bumi, tubuh yang bugar hancur dan membusuk, tulang-tulang telah menjadi lapuk, roh terbebani oleh beratnya dosa, maka amal baik tidak dapat ditambah dan kejahatan tidak dapat ditebus kembali dengan bertaubat. (Pustaka)
Bukankah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi didalam dada semua manusia dialam ini?, apakah engkau tidak malu kepada Allah?, lisanmu ber-taubat tetapi hatimu ingkar kepada-Nya. Janganlah menipu kemurahan hati Allah, karena siksa-Nya amat pedih. Jangan samakan ulama yang bodoh dengan Allah, mereka hanya pandai dengan hukum Allah, tetapi tidak mengerti akan Allah. Mereka memerintahkan manusia sementara mereka tidak melakukannya, mereka mencegah manusia tetapi tidak mencegah dirinya sendiri, mereka hanya menampakkan kedurhakaan dan kesalahan-kesalahan manusia-manusia lain. (Pustaka)
Jika penyembahanmu dilampiri dengan taubatmu, maka Allah akan mencintaimu dan mengokohkan kecintaan-Nya dihatimu, mendekatkanmu dengan-Nya tanpa kesulitan dan Allah menyiapkan sahabat-sahabat yang terbaik bagimu (Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin), sehingga engkau menjadi orang yang diridhoi-Nya dalam segala keadaan. Kendati bumi serasa sempit bagimu, maka Allah akan melapangkannya bagimu. Walau semua pintu terkunci bagimu, kalau engkau bersabar dan engkau tidak marah kepada-Nya, maka engkaulah orang yang paling beruntung disisi-Nya. (Pustaka)
Akuilah kekurangan kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaan kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kelalaian kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan ampunan-Nya. Akuilah kelemahan kita dihadapan-Nya maka Dia akan menolong kita dengan daya dan kekuatan-Nya. (Pustaka)
Engkau tidak diciptakan hanya untuk permainan dan engkau tidak diciptakan hanya untuk makan, minum, tidur dan memenuhi nafsu syahwat. Bangkitlah wahai pelalai kewajiban, arahkan hati dengan melangkah kepada-Nya maka cinta-Nya akan melangkah kearahmu, pertemuanNya denganmu sangat menggembirakan-Nya dan kegembiraan-Nya lebih gembira dari orang yang kehilangan sesuatu kemudian menemukannya, lebih gembira dari orang yang kehausan yang menemukan air minum dan lebih gembira dari seorang wanita yang mandul yang dapat melahirkan anak. (Pustaka)
Idul fitri bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, tetapi bagi orang yang aman dari ancaman Allah. Idul fitri bukan bagi pemakai wangi-wangian, tetapi bagi orang yang bertaubat dan memperbaiki diri. Idul fitri bukan bagi orang yang datang kemudian pergi dengan pemberian, tapi bagi orang yang meninggalkan kesalahan. (Pustaka)

“Apa Itu Substansi ‘Orang Kaya’ Yang Sebenarnya”

Oleh : Drs.M.Sofyan Lubis, SH.

Banyak manusia di dalam hidupnya keliru menafsirkan apa sebenarnya yang disebut sebagai orang “kaya” itu. Karena selalu diukur dengan HARTA-BENDA. Perlu saya sampaikan apa yang disebut  “kaya” juga ada dalam dunia “nilai” atau ia menyangkut tentang ukuran tentang “patut dan tidak patutnya sesuatu”. Kaya pada prinsipnya dapat didefinisikan adalah ;

Tingkat seberapa jauh seseorang itu mampu mengumpulkan nilai-nilai yang hidup dan berkembang serta diakui di tengah-tengah masyarakat”.

Jadi orang kaya selalu menyangkut tentang seberapa banyak ia mampu mengumpulkan nilai-nilai yang hidup dan diakui di tengah-tengah masyarakat.

Para ahli sejauh ini telah menginventarisir nilai-nilai yang hidup dan diakui di tengah-tengah masyarakat menyangkut beberapa aspek nilai, yaitu sbb :

01.   Nilai Kekuasaan : Tingkat kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar orang tersebut dapat berbuat sesuai dengan yang diinginkannya, atau orang yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan orang lain sesuai dengan keinginannya;

02.   Nilai Harta-benda : Tingkat seberapa jauh manusia itu dapat mengumpulkan dan menguasai harta benda yang dapat dipergunakan sebagai pemuas kebutuhan hidupnya ;

03.   Nilai Pendidikan : Tingkat seberapa jauh seseorang dapat menguasai beberapa disiplin ilmiah yang dapat mempermudah langkah perjuangannya di dalam mencapai cita-citanya yang dapat menyelesaikan semua persoalan hidupnya ;

04.   Nilai Ketrampilan : Tingkat seberapa jauh manusia itu mampu mempunyai pengalaman/ketrampilan di dalam profesi  pekerjaannya yang dibutuhkan banyak orang serta dapat diandalkannya untuk mencari materi/uang dan kepuasan batin atas prestasinya ;

05.   Nilai Kasih sayang : Tingkat seberapa jauh manusia itu dapat menciptakan serta memiliki rasa empaty orang-orang yang dicintainya serta merasakan kasih sayang dari seseorang atau siapapun yang perduli kepadanya dan mampu memberikan kasih sayang terhadap sesamanya ;

06.   Nilai Harga diri : Tingkat seberapa jauh manusia itu memiliki kemampuan untuk merespek diri sendiri serta mengkondisi penghargaan orang lain kepadanya ;

07.   Nilai Kesehatan : Tingkat sejauh mana seseorang mampu menjaga kesehatan lahir dan batinnya sehingga ia dapat merasakan semua nikmat Tuhan yang ada padanya ;

08.   Nilai Keadilan : Tingkat seberapa jauh ia mampu memperjuangkan hak-haknya di dalam interaksi hidupnya dengan orang lain agar ia merasakan antara kewajiban yang ia berikan dengan hak yang ia terima dari orang lain benar-benar patut dan seimbang ;

09.   Nilai Keamanan : Tingkat seberapa jauh ia mampu menciptakan proteksi atau melindungi dirinya di dalam interaksi sosial dengan semua pihak yang ada di dalam masyarakat, sehingga ia merasa bebas dari segala ancaman ;

10.   Nilai Kebebasan : Tingkat seberapa jauh manusia itu dapat mengekspresikan kebebasannya dengan tidak mengganggu kebebasan orang lain ;

Atas dasar kesepuluh poin di atas maka orang kaya adalah orang yang memiliki keseluruhan nilai-nilai tersebut di atas.

Sedang Imam Al Ghazali mengatakan bahwa, “Orang kaya adalah orang yang di dalam hidupnya selalu merasa cukup”. Artinya di sini jika seseorang sekalipun ia memiliki uang triliyunan rupiah dan dengan uang sebanyak itu ternyata ia masih merasa kurang maka orang tersebut tetap disebut sebagai ‘orang miskin’. Sebaliknya orang yang hanya memiliki uang hanya 1 atau 2 juta rupiah kalau ia merasa cukup, maka ia akan disebut orang yang kaya.

Sedang orang yang “Bahagia”, erat hubungannya dengan kemampuan seseorang di dalam memandang dan menterjemahkan apa arti hidup dan kehidupannya, serta mampu memainkan “Rasa Syukur” secara terus menerus kepada Allah SWT serta berusaha bagaimana ia mampu sebagai Khalifah yang baik di muka bumi ini dengan mengamalkan sifat-sifat Tuhan yang ada sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Dan tentu saja ada pendapat lain yang berbeda dengan pendapat saya di atas, dan jika ada itu sah dan harus kita hormati.

“Sikap Pengemudi Taxi Yang Bijak”

Suatu hari saya naik sebuah taxi menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yg benar, ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dr tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki maki ke arah kami.
Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat.
saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya ? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit !”
Saat itulah saya belajar dr supir taxi tersebut mengenai apa yg saya kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”. Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan ,kekecewaan. Seiring dgn semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat utk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah atau dlm perjalanan. Intinya, orang yg sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat utk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka kasihilah orang yg memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yg tidak.
Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% ttg bagaimana kamu MENYIKAPINYA … YOU CHOOSE TO BE HAPPY OR GRUMPY ..

IT’S JUST A MATTER OF CHOICE !!!

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi ttg bagaimana belajar menari dlm hujan.
Jangan pernah menghakimi org lain

Biarlah kita menjadi pribadi bijak,
Dan mencoba introspeksi diri,
Dan mencoba belajar mengerti org lain.

Selamat menikmati hidup & bebas dari “sampah”
Have a positive day for better tomorrow

“MENANGISI KARUNIA”

Lelaki itu tertegun syahdu. Bulir-bulir kristal bening perlahan membasahi pipinya. Mata yang basah itu menatap kosong ke arah meja hidangan di depannya. Baru saja semangkuk makanan diantarkan untuknya berbuka puasa. Perlahan, terdengar gumaman parau dari mulutnya, “Aku ingat Mush`ab bin Umair yang syahid di Uhud. Ia jauh lebih baik dariku. Ketika ia syahid, tidak ada kain yang cukup untuk menutupi sekujur jenazahnya. Sekarang, kesenangan dunia sedang dibentangkan untuk kita. Aku khawatir, balasan amal kita dipercepat Allah di dunia, hingga tidak ada lagi bagian kita di akhirat kelak.”

Abdurrahman bin Auf nama lelaki itu. Satu dari sepuluh manusia yang beruntung mendapat jaminan surga. Seorang Sahabat Rasulullah yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai konglomerat yang dermawan. Kisah di atas terjadi cukup jauh setelah Rasulullah mangkat. Saat di mana daerah Islam semakin meluas, dan kesenangan duniawi mulai membelai lembut wajah kaum muslimin.
Cukup menarik menyaksikan Sahabat ini menangis di depan hidangan berbukanya. Seorang manusia yang telah dijamin masuk surga, namun masih saja merasa lebih hina dari orang lain yang tidak mendapatkan jaminan itu. Seorang yang terbiasa dengan limpahan harta, namun masih saja terisak menyaksikan semangkok hidangan berbuka puasa. Ia merasa khawatir jika makanan di depannya akan membuat jatah kebahagiaan di akhirat akan berkurang.
Telah separoh Ramadhan terlewati, sederhana saja, pernahkan perasaan yang sama kita rasakan di depan hidangan ifthar kita? Pernahkah ada bayangan orang-orang tak beruntung di benak kita ketika regukan air pertama membasahi tenggorokan? Tidak usah jauh-jauh berpikir seperti Abdurrahman yang khawatir kalau nikmat ini akan mengurangi balasan di akhirat, paling tidak, pernahkah rasa syukur tulus membuncah ketika suap demi suap memenuhi perut?
Puasa demikian indah mengajarkan banyak hal. Mulai dari perihnya rasa lapar yang dirasakan kaum papa, hingga perasaan selalu dilihat oleh Sang Pencipta. Sayangnya, semua itu acapkali alpa dihayati ketika makanan telah terhidang di depan kita. Lupa bahwa banyak saudara seiman yang kurang beruntung di tempat lain. Lupa bahwa di kolong-kolong jembatan sana , banyak umat Islam yang hanya berbuka dengan sereguk air sungai, mengais-ngais bekas makanan orang lain untuk melepas lapar seharian. Lupa bahwa di negeri-negeri yang tidak sedamai kita banyak saudara seakidah yang berbuka puasa di bawah desingan peluru, melepas lapar di bawah bayang-bayang kematian.
Jangankan untuk peduli dengan nasib orang lain, hidangan yang menggiurkan kadang malah membuat doa makan terlewatkan. Terkadang yang ada hanya obsesi untuk membalas rasa lapar seharian dengan melahap segala yang ada, naudzubillah. Bila ini yang terjadi, ironis, kita baru mencatat prestasi mampu bertahan lapar dan haus saja. “Betapa banyak manusia yang berpuasa, namun tidak menghasilkan apa-apa selain lapar dan haus belaka (HR. Ahmad).”
Tulisan ini tidak bermaksud untuk melarang berbahagia ketika masa-masa berbuka tiba, karena kita memang berhak untuk gembira ketika itu. Hanya sekedar ajakan untuk menyisakan sedikit waktu merenung dalam kebahagiaan itu. Belajar untuk memahami arti nikmat yang Allah berikan. Belajar memahami kebesaran karunia Allah dalam semangkuk hidangan ifthâr. Bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Bahwa di saat mulut ini mengecap nikmat, di tempat lain mungkin banyak mulut yang merintih menahan derita.
Syukur-syukur bila terucap sebait doa untuk mereka-mereka yang kurang beruntung. Lebih syukur lagi bila perenungan itu mampu melahirkan air mata tulus, menangisi karunia Allah, meratapi kelemahan diri mensyukuri segala pemberian-Nya. Sungguh, tidak ada kebahagian di atas kesuksesan meresapi makna pemberian-Nya. Wallâhu a’lam.
Sumber :

KISAH PENUH HIKMAH

Diposkan oleh Ahmad Fazli

 

 

“KISAH WANITA YANG SELALU BERBICARA DENGAN BAHASA AL-QUR’AN”

Semoga Catatan ini bisa menjadi bahan Renungan Buat Kita Tentang Pentingnya menjaga Lidah Kita karena kelak semua yang keluar dari mulut kita akan 

dimintai pertangungjawaban Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala : Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.”
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya : “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)
Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (“Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”) Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga malam dalam keadaan sehat”)
Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (“Dialah pemberi aku makan dan minum”)
Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah :6) (“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)
Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”
Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (“Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”)
Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?”
Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al-Baqarah:158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)
Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah : 184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)
Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (“Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)
Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”
Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)
Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (“Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)
Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (“Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”) Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30) (“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy-Syura’ 30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)
Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”
Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”) Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : “Silahkan naik sekarang.”
Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”) Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi.
Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (“Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”) Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap.
Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (“Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)
Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (“Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”) Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101) (“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”) Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (“Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (“Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”) Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan. Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”
Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (“Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146) (“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam : 12) (“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”) Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.
Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”) Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al-Haqqah : 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu”)
Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata : “Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.” Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap :
“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21) (“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar”)
[Disarikan oleh: DHB Wicaksono, dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168] dari Situs Al-Muhajir Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang dikerjakan oleh kedua tangannya Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (QS. 18:57)

Diposkan oleh Ahmad Fazli

“KISAH PENANTIAN PULUHAN TAHUN SEORANG GADIS”

“Semoga catatan ini bisa memberi hikmah bagi kita para Akhwat yang sampai detik ini belum dipertemukan dengan jodohnya” Sholat jum’at baru saja usai ditunaikan. Pak Yunus seperti biasa masih berada dalam masjid bersama beberapa bapak yang lain. Tiba-tiba, baru saja selesai berdzikir, Pak Daud menghampiri Pak Yunus: menepuk pundak Pak Yunus lantas berjabat tangan. Ya, Pak Yunus dan Pak Daud sudah berteman sejak lama semenjak dipertemukan dalam satu pengajian.“Gimana kabarnya Pak?”, sapa Pak Daud “Alhamdulillah baik. Bapak sendiri gimana?”, balas Pak Yunus “Alhamdulillah.. (terdiam sebentar). Ngomong-ngomong,, masih sendirian aja nih Pak?”, Pak Daud melempar pertanyaan gurauan yang selama ini sering diajukannya. Pak Yunus hanya tersenyum seperti biasanya jika ditanya hal itu. Semenjak istri Pak Yunus meninggal dunia beberapa tahun lalu, Pak Yunus menjalani hari-harinya tanpa pendamping. Usianya yang sudah kepala 6 pula yang sepertinya menjadi salah satu keputusan untuk tak ingin menikah lagi. Ketiga anaknya yang telah berkeluarga membuat Pak Yunus semakin kesepian. Ya, sebagai seorang laki-laki, terkadang perasaan membutuhkan seorang pendamping di hari tua, juga dialami oleh Pak Yunus. Banyak teman di sekitar Pak Yunus yang menyarankan untuk menikah lagi, termasuk Pak Daud. 

1 Syawal 1430 H
“Hei,, saudara-saudara,, Tasya mau nikah 2011 nanti..”, Mira, menantu Pak Daud, tiba-tiba berteriak di ruang tengah saat kumpul keluarga besar Pak Daud. Spontan, saudara-saudara yang lain langsung bertanya ke yang bersangkutan, Tasya, anak bungsu Pak Daud. “Bener Sya?” “Bener ka Tasya?” Tasya hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan senyuman, sambil berkata: “Itu hanya rencana pribadi. Belum tahu rencana ALLAH nantinya..” Di sisi lain, Tante Yeni hanya terdiam, dan tersenyum yang cukup dipaksakan. Tante Yeni adalah adik perempuan Pak Daud yang belum juga bersuami di usianya yang menjelang kepala 5.
Tasya menangkap semburat yang tidak mengenakkan ketika melihat wajah tante Yeni.Tasya sadar dan merasakan apa yang tante Yeni rasakan: keponakannya sudah merencanakan akan menikah,, sementara dirinya??. Mungkin hal itulah yang ada di pikiran tante Yeni, pikir Tasya.
Tante Yeni memang belum menikah hingga saat ini, yang mungkin seharusnya sudah saatnya mempunyai anak atau bahkan menimang cucu. Tapi, ya itulah jodoh. Tante Yeni bisa dibilang belum menemukan jodohnya hingga saat ini. Apakah karena masalah kecantikan? Ooohh,, tentu tidak! Tante Yeni cukup cantik dengan kulit putihnya. Apakah karena agamanya? Oooohh,, jangan salah,, tante Yeni adalah wanita yang sangat menjaga qiyamullail. Apakah karena hartanya? Ooohh,, tentu saja tante Yeni cukup mandiri untuk menghidupi dirinya walaupun tanpa pekerjaan tetap, yang penting tetap berpenghasilan. Apakah karena keturunannya? Ooohh,, tante Yeni adalah keturunan terhormat, dari bapak yang seorang kepala sekolah. Lantas,, apa yang membuatnya hingga saat ini belum juga menikah?? Ya, itulah misteri jodoh. Kita tak kan pernah tahu kapan datangnya, dan kita takkan pernah tahu dengan siapa kita berjodoh. Kita hanya bisa menanti, berusaha, berdo’a dan terus memperbaiki diri.
***
Seperti jum’at biasanya, beberapa bapak masih berdzikir di dalam masjid usai sholat jum’at, termasuk Pak Yunus dan Pak Daud. Pak Yunus menghampiri Pak Daud yang sedang berada di pojok masjid. “Assalamu’alaikum. Pak..”, sapa Pak Yunus sambil menjabat tangan Pak Daud. “Wa’alaikumusalam..”, jawab Pak Daud hangat. Pak Yunus menyampaikan maksudnya; ia ingin menikah lagi dan ingin mencoba berkenalan dengan adik perempuan Pak Daud, tante Yeni. Pak Daud dengan senang hati menerima tawaran itu dan mengabarkan hal ini kepada adiknya, tante Yeni. Tante Yeni pun mengiyakan; hal ini yang tentunya sangat dinantikan tante Yeni. Pertemuan pertama pun sudah diatur oleh Pak Daud. Pak Daud menemani Pak Yunus untuk berkunjung ke rumah orang tua Pak Daud, yang tak lain dan tak bukan adalah tempat tinggal tante Yeni. Mereka berbincang dan berkenalan lebih dalam. Pertemuan demi pertemuan dilakukan. Tak ada jalan berdua, selalu ada yang menemani, layaknya ta’aruf pada umumnya. Hanya ada 4 kali pertemuan dan kedua belah pihak keluarga juga menyetujui, termasuk anak-anak Pak Yunus. Akhirnya khitbah pun dilangsungkan.
***
Keluarga besar Pak Daud telah berkumpul sejak pagi di rumah orang tua Pak Daud. Hari ini akan ada ada pertemuan dua keluarga: keluarga Pak Yunus dan keluarga tante Yeni. Di sela-sela persiapan khitbah, Tasya menemani tante Yeni di kamarnya dan bermaksud mendapatkan cerita yang menarik dari proses ini. Proses menuju pernikahan seorang gadis berumur 40-an dengan duda berumur 60-an, sungguh kisah yang unik. “Gimana tante perasaannya?”, tanya Tasya to the point. “Yaaaa,, gak nyangka aja. Padahal kamu yang udah ngerencanain nikah, sedangkan tante gak punya rencana apa-apa. Tapi ternyata sekarang tante mau dilamar..”, jawab tante Yeni sumringah. “Ya,, gitu deh kalo udah rencana ALLAH. Aku juga itu baru rencana pribadi. Gak tau deh ke depannya gimana. Mungkin bisa dipercepat atau diperlambat sama ALLAH dari rencanaku.”, Tasya semakin bijak dalam kata-kata. “Iya, padahal kan tante udah hampir 50 umurnya. Tapi ternyata emang baru saat ini ALLAH memberikan jodoh itu. Nggak tau kenapa pas sama Pak Yunus, terasa dimudahin banget prosesnya, cuma 4 kali ketemuan. Pas ketemuan 2 kali, dia sms kalo mantap dengan pilihannya. Pas ketemu sama anak-anaknya, tante juga gak merasa takut, biasa aja. Ya, tante mah berdoa aja sama ALLAH, jika memang ini yang terbaik maka dekatkanlah dan mudahkanlah, dan jika memang bukan terbaik untukku, maka jauhkanlah dengan baik-baik. Alhamdulillah,, proses itu dimudahkan dan hati tante pun mantap.”, cerita panjang tante Yeni begitu membuat Tasya terperangah. “Semoga lancar ya Tan,, ke depannya..”, Tasya menguatkan tante Yeni, sambil bersiap menuju ruang keluarga karena sudah banyak yang menunggu.
***
Setelah khitbah, hari itu juga keluarga besar tante Yeni pun berkumpul untuk membicarakan resepsi pernikahan yang sungguh unik ini. Mulai dari membuat undangan, kepanitiaan sampai pembagian tugas. Ya, resepsi pernikahan yang akan dilangsungkan tak jauh beda dengan resepsi pernikahan pasangan muda pada umumnya.
***
Akad nikah yang dilangsungkan beberapa hari setelah Hari Raya Idul Adha begitu khidmat. Undangan para anak yatim piatu turut merasakan kebahagiaan kedua mempelai pada resepsi pernikahan. Dan kini, doa tante Yeni terkabul sudah; menutup masa lajangnya.
***
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata tanteku. Ya, dalam masa penantian menemukan jodohnya, tak sepatah kata pun kudengar dari bibirnya menyalahkan takdir, menyalahkan ALLAH yang seolah tak berpihak padanya. Dalam masa penantian itu, dia sibukkan dirinya dengan ibadah kepada ALLAH dan kegiatan sosial di lingkungannya. Hingga akhirnya, selama penantian bertahun-tahun, puluhan tahun lamanya, teruji sudah kesabarannya, dan ia pun mendapatkan jodoh yang insya ALLAH terbaik menurut ALLAH. Itulah misteri jodoh. Kita tak kan pernah tahu kapan jodoh itu datang. Manusia hanya bisa berencana. Namun, ALLAH-lah yang berkehendak atas semuanya. Bisa saja jodoh kita datang menjadi lebih cepat atau bahkan lebih lambat dari rencana kita sebelumnya. Kita pun tak kan pernah tahu dengan siapa kita berjodoh. Entah itu dengan orang yang sudah dekat dengan kita maupun orang jauh sekalipun yang tak pernah saling bertemu. Atau bahkan kita tak dipertemukan dengan jodoh kita di dunia ini, tapi di syurga-NYA nanti. Allahu Akbar!
Saudaraku, yakinlah bahwa ALLAH telah menyiapkan skenario terbaik untuk kita dalam masalah jodoh. Tak perlu khawatir. Karena ALLAH telah berkata dalam Q.S An-Nahl:72 “Dan Allah telah menjadikan jodoh-jodoh kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu bagi kamu dari jodoh-jodohmu.” Saudaraku, jangan pernah terbersit sedikitpun bahwa ALLAH tak adil karena sampai saat ini jodoh belum juga menghampiri. Coba instrospeksi diri. Gunakan masa penantian jodoh ini dengan terus berikhtiar, berdoa dan terus sibuk memperbaiki diri. Bukankah kita menginginkan jodoh yang baik? Seperti yang dijanjikan-NYA dalam Q.S An-nuur:26 “Wanita – wanita yang keji adalah untuk laki – laki yang keji dan laki – laki yang keji adalah untuk wanita yang keji. Dan wanita – wanita yang baik adalah untuk laki – laki yang baik, dan laki – laki yang baik adalah untuk wanita – wanita yang baik (pula).” Teruntuk tanteku: “Barakallahu Laka Wa Baraka ‘Alaika Wa Jama’a Bainakuma Fi Khair”
Sumber :

KISAH PENUH HIKMAH

Diposkan oleh : Ahmad Fazli