“Apa Itu Substansi ‘Orang Kaya’ Yang Sebenarnya”

Oleh : Drs.M.Sofyan Lubis, SH.

Banyak manusia di dalam hidupnya keliru menafsirkan apa sebenarnya yang disebut sebagai orang “kaya” itu. Karena selalu diukur dengan HARTA-BENDA. Perlu saya sampaikan apa yang disebut  “kaya” juga ada dalam dunia “nilai” atau ia menyangkut tentang ukuran tentang “patut dan tidak patutnya sesuatu”. Kaya pada prinsipnya dapat didefinisikan adalah ;

Tingkat seberapa jauh seseorang itu mampu mengumpulkan nilai-nilai yang hidup dan berkembang serta diakui di tengah-tengah masyarakat”.

Jadi orang kaya selalu menyangkut tentang seberapa banyak ia mampu mengumpulkan nilai-nilai yang hidup dan diakui di tengah-tengah masyarakat.

Para ahli sejauh ini telah menginventarisir nilai-nilai yang hidup dan diakui di tengah-tengah masyarakat menyangkut beberapa aspek nilai, yaitu sbb :

01.   Nilai Kekuasaan : Tingkat kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar orang tersebut dapat berbuat sesuai dengan yang diinginkannya, atau orang yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan orang lain sesuai dengan keinginannya;

02.   Nilai Harta-benda : Tingkat seberapa jauh manusia itu dapat mengumpulkan dan menguasai harta benda yang dapat dipergunakan sebagai pemuas kebutuhan hidupnya ;

03.   Nilai Pendidikan : Tingkat seberapa jauh seseorang dapat menguasai beberapa disiplin ilmiah yang dapat mempermudah langkah perjuangannya di dalam mencapai cita-citanya yang dapat menyelesaikan semua persoalan hidupnya ;

04.   Nilai Ketrampilan : Tingkat seberapa jauh manusia itu mampu mempunyai pengalaman/ketrampilan di dalam profesi  pekerjaannya yang dibutuhkan banyak orang serta dapat diandalkannya untuk mencari materi/uang dan kepuasan batin atas prestasinya ;

05.   Nilai Kasih sayang : Tingkat seberapa jauh manusia itu dapat menciptakan serta memiliki rasa empaty orang-orang yang dicintainya serta merasakan kasih sayang dari seseorang atau siapapun yang perduli kepadanya dan mampu memberikan kasih sayang terhadap sesamanya ;

06.   Nilai Harga diri : Tingkat seberapa jauh manusia itu memiliki kemampuan untuk merespek diri sendiri serta mengkondisi penghargaan orang lain kepadanya ;

07.   Nilai Kesehatan : Tingkat sejauh mana seseorang mampu menjaga kesehatan lahir dan batinnya sehingga ia dapat merasakan semua nikmat Tuhan yang ada padanya ;

08.   Nilai Keadilan : Tingkat seberapa jauh ia mampu memperjuangkan hak-haknya di dalam interaksi hidupnya dengan orang lain agar ia merasakan antara kewajiban yang ia berikan dengan hak yang ia terima dari orang lain benar-benar patut dan seimbang ;

09.   Nilai Keamanan : Tingkat seberapa jauh ia mampu menciptakan proteksi atau melindungi dirinya di dalam interaksi sosial dengan semua pihak yang ada di dalam masyarakat, sehingga ia merasa bebas dari segala ancaman ;

10.   Nilai Kebebasan : Tingkat seberapa jauh manusia itu dapat mengekspresikan kebebasannya dengan tidak mengganggu kebebasan orang lain ;

Atas dasar kesepuluh poin di atas maka orang kaya adalah orang yang memiliki keseluruhan nilai-nilai tersebut di atas.

Sedang Imam Al Ghazali mengatakan bahwa, “Orang kaya adalah orang yang di dalam hidupnya selalu merasa cukup”. Artinya di sini jika seseorang sekalipun ia memiliki uang triliyunan rupiah dan dengan uang sebanyak itu ternyata ia masih merasa kurang maka orang tersebut tetap disebut sebagai ‘orang miskin’. Sebaliknya orang yang hanya memiliki uang hanya 1 atau 2 juta rupiah kalau ia merasa cukup, maka ia akan disebut orang yang kaya.

Sedang orang yang “Bahagia”, erat hubungannya dengan kemampuan seseorang di dalam memandang dan menterjemahkan apa arti hidup dan kehidupannya, serta mampu memainkan “Rasa Syukur” secara terus menerus kepada Allah SWT serta berusaha bagaimana ia mampu sebagai Khalifah yang baik di muka bumi ini dengan mengamalkan sifat-sifat Tuhan yang ada sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Dan tentu saja ada pendapat lain yang berbeda dengan pendapat saya di atas, dan jika ada itu sah dan harus kita hormati.