“Ancaman Obesitas Di Segala Usia”

Sepertinya, makin hari makin banyak saja orang Indonesia yang menderita kegemukan. Penelitian yang dilakukan oleh Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) tahun 2004, diketahui sebanyak 20,18% dari penduduk dewasa (25 tahun ke atas) di Indonesia menderita obesitas, dan lebih dari setengahnya (11,02 %) adalah kaum wanita.

USIA 20-an
Stres akibat beban kerja menumpuk juga bisa membuat seseorang terpicu untuk menyantap makanan berkalori tinggi dalam jumlah berlebihan. Bahkan, tingkat kesibukan yang tinggi juga kerap membuat orang terpaksa mengisi perut dengan camilan tak sehat atau makanan cepat saji yang berkalori tinggi. “Selain itu, aktivitas fisik wanita bekerja biasanya juga akan menurun dibanding saat masih sekolah atau kuliah. Terutama mereka yang bekerja di belakang meja,” ujar dr. Fiastuti Witjaksono, M.S.SpGK, dari RS MMC Jakarta.

Mereka yang memiliki kelebihan berat badan di usia ini, berisiko besar menderita penyakit diabetes, yang timbul karena adanya penumpukan lemak pada dinding-dinding sel sehingga menutupi pintu sel. Akibatnya, kerja hormon insulin dalam tubuh yang berfungsi sebagai pembuka pintu sel, jadi terhambat.

USIA 30-an
“Kalau kita hamil, bukan berarti jumlah makanan yang masuk harus dua kali lipat. Yang benar, kita hanya perlu menambah asupan makanan sekitar 300 kalori saja dari biasanya. Itu pun hanya pada usia kehamilan trimester terakhir. Jadi, yang penting bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya. Hal yang sama juga harus diterapkan pada masa menyusui,” jelas dr. Fiastuti.

Akibat pola makan yang berlebihan di masa kehamilan dan menyusui, tak heran bila Anda nantinya akan kesulitan untuk mencapai berat badan normal kembali. Selain itu, jika tidak menjaga berat badan pada masa kehamilan, kemungkinan seorang wanita terkena diabetes akan meningkat. Wanita yang memiliki diabetes gestational (diabetes yang didapat saat kehamilan), akan lebih besar kemungkinannya terkena diabetes tipe 2 (non-insulin dependent diabetes mellitus/NIDDM) di kemudian hari.

USIA 40-an
Di rentang usia ini, wanita sudah mulai kehilangan massa otot dibanding masa-masa sebelumnya. Hilangnya massa otot itu kemudian akan tergantikan oleh massa lemak. Tak heran bila berat badan pun meningkat. Selain itu, upaya menurunkan berat badan di usia ini jauh lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Misalnya, jika di umur 20-an atau 30-an kita bisa membakar 1.000 kalori hanya dengan berlari selama setengah jam, hal yang sama tidak bisa lagi terjadi di saat usia kita sudah mencapai 40 tahunan. Hal ini berkaitan dengan Basal Metabolic Rate (BMR) atau kebutuhan energi basal seseorang. “Makin tua usia seseorang, maka BMR-nya juga akan makin rendah,” ujar dr. Fiastuti.

Dengan kata lain, makin tua seseorang maka kemampuan tubuhnya bermetabolisme untuk menghasilkan energi juga akan makin rendah. Ini berkaitan dengan massa otot (sebagai bahan bakar metabolisme), yang makin berkurang seiring dengan meningkatnya usia.

USIA 50-an
Menginjak usia 50 tahun, sebagian besar wanita sudah mulai menginjak masa menopause. Kegemukan sering terjadi karena mereka mulai meninggalkan kegiatan-kegiatan yang banyak menguras tenaga. Perubahan hormon juga makin drastis, khususnya menyangkut penurunan tajam produksi hormon estrogen, yang membuat wanita menjadi lebih rentan terhadap bahaya lemak. Hormon estrogen pada wanita memiliki peran penting dalam memperlambat proses atherosclerosis (penumpukan plak, salah satunya lemak, dalam pembuluh darah). Tak heran bila ancaman penyakit jantung koroner pun makin tinggi.

Sumber : Internet